Sabtu, 20 September 2014
I Lost You
Tiap langkah terasa berat bagi Rafa,kenangan bersama Salia selalu berputar berputar di kepalanya. Salia wanita yang selalu tersenyum dengan tulus padanya dan Salia lah yang selalu memberikannya kasih sayang walaupun dengan cara yang menjengkelkan.
Rafa berhenti di depan laut,merasakan hembusan angin laut.dan tanpa terasa bulir air matanya jatuh di pipinya. rasanya Rafa ingin menjatuhkan dirinya dalam gelombang laut dan hanyut entah kemana. Rafa membungkukkan dirinya lalu mengambil sebuah kerang putih. Rafa memejamkan matanya sambil memandang lekat pemandangan laut yang indah.
Flashback
“Rafa!Rafa!Rafa!” Salia mengejar langkah Rafa dengan kaki mungilnya.
Suara cempreng dan hampir membuat kuping Rafa berdengung karnanya yang amat dia kenal. Rafa memutar badannya malas menghadap Samia.
“Jangan menggangguku.” Nada suara Rafa yang datar dan rasa tidak suka karena kehadiran Salia yang menurutnya sangat mengganggunya.
Salia tidak terpengaruh dengan nada suara Rafa malah menunjukkan cengiran aneh pada Rafa. Rafa melihatnya sebal lalu berniat meninggalkan Samia.tiba-tiba sebuah tangan putih menahan lengannya.
“Kenapa kau selalu menghindariku?” Salia menahan lengan Rafa,
“Karena Kau seperti pengganggu,itu membuatku risih karena kau terlihat seperti menyukaiku.Kau itu bukan tipeku kau tahu kan?.” Rafa menepis tangan Salia lalu meninggalkan Samia yang mematung sendirian di dekat lautan yang luas.
Flashback end
Rafa melangkahkan kakinya pergi dari pantai. Dan berjalan menuju taman tidak jauh dari sana.ketika Rafa berjalan Ia melihat sepasang kekasih duduk di kursi taman tersebut. Rafa menatap bangku taman itu dengan tatapan kosong.
Flashback
Rafa duduk di sebuah bangku taman sambil mendengarkan lagu memakai headset sambil membaca sebuah buku novel. Rafa tenggelam dengan keasyikkannya tanpa menyadari ada seorang gadis bergaun pink dengan pita di pinggangnya duduk disebelahnya.
Ya gadis itu adalah Salia. Salia menoleh kearah Rafa yang tidak menyadari ada Ia di sampingnya. Salia tidak berniat menggangu Rafa yang sedang menikmati novelnya dan hanya duduk disampingnya. Salia meletakkan tempat makan berisi kue coklat lalu pergi meninggalkan Rafa sendirian.
Tak berselang lama Rafa melepaskan headset nya lalu melangkahkan kakinya untuk pergi. Langkah Rafa terhenti ketika melihat kotak makanan warna pink. Rafa mengambil kotak makanan itu.ternyata diatasnya ada secarik kertasnya. Disana tertulis:
”Makanlah kue itu,Aku susah payah membuatnya untukmu.-Salia-“
Rafa kembali duduk di bangku taman itu lalu membuka tutup tempat makanan itu dan menyuapkan kue itu ke mulutnya.rasanya cukup enak untuk ukuran pemula dalam hati Rafa.
Flashback End
Rafa melangkahkan kakinya meninggalkan taman menuju rumahnya.ketika di depan etalase toko aksesoris di pinggir jalan.matanya menangkap sebuah kalung perak berliontin krystal hijau dipajang di dalamnya.hatinya terasa sangat nyilu kali ini dan air matanya kembali mengalir.wajah Salia kembali menghantuinya.wajah yang sangat dirindukan Rafa,
Flashback
“Rafa,kemarin kau memakan kue yang kutinggalkan di bangku taman.”tanya Salia
Saat ini Rafa dan Salia berada diatas loteng sekolah mereka. Rafa menoleh kearah Salia.
“Ya.”Jawab Rafa sekena nya.
“Aku minta imbalan,Kau kan sudah memakannya jadi berikan aku imbalannya.” Salia “menodong “ Rafa dengan cara membuka telapak tangannya di wajah Rafa.
“Kenapa Aku harus memberimu imbalan?” Rafa mengernyitkan alisnya.
“Berikan imbalanku atau akan Ku ganggu Kau setiap hari hingga kau memberikan imbalanku.”
Salia pergi lalu menuruni loteng sekolah meninggalkan Rafa sendirian.
Bel pulang sudah berbunyi,Rafa akhirnya turun dari loteng itu lalu berjalan pulang.ketika di jalan Rafa melihat sebuah kalung perak ber liontin kan krystal hijau. Rafa masuk lalu membeli kalung tersebut.
Esoknya...
Padi-pagi sekali Rafa berangkat dari rumah namun tidak langsung berangkat kesekolah tapi Rafa malah membelokkan kakinya pergi kerumah Salia dan menunggu Salia keluar.
Pagar rumah Salia tiba-tiba berdenyit ternyata Salia yang membukanya.
“Rafa! Kau membuat ku kaget saja.” Salia memegang dadanya menandakan Dia kaget.
“Ini imbalanmu,setelah itu enyahlah dari hadapanku.” Rafa melemparkan sebuah kotak kearah Salia lalu pergi begitu saja.
Flashback end
Rafa meninggalkan toko itu lalu melangkahkan kakinya hingga bayangannya menghilang meninggalkan kalung itu yang masih terpajang di etalase toko.toko itu bagaikan saksi bisu perjalanan cinta nya dengan Salia.
_oo_
Suasana kelas begitu ramai karena hari ini diadakan rapat dadakan yang membuat banyak guru absen dari jam belajar walaupun masuk paling hanya memberikan tugas.
Rafa memandang meja dan kursi di sebelah kanan nya.ya itu kursi milik Salia.biasanya Salia akan mengganggunya saat tidak ada guru.seperti menarik headset Rafa atau berbicara pada Rafa namun tidak ditanggapi oleh Rafa bahkan Salia tidak segan mengambil alat tulis Rafa agar Rafa menoleh atau berbicara padanya walaupun Rafa berbicara padanya dengan nada dingin dan tidak suka padanya.bukan Salia namanya kalau Ia takut pada Rafa.
Namun sekarang kursi dan meja itu tidak mempunyai pemilik.kursi dan meja itu seperti saksi bisu momen mereka.
Flashback
Seharian ini Salia tampak diam dan tidak menggangu Rafa sama sekali dan hanya merebahkan kepalanya di atas meja,tidak seperti biasanya.Rafa merasa ada yang aneh namun pikiran itu dia tepis.bukannya bagus jika Salia tidak mengganggunya kan?
Satu,hingga dua jam Salia masih tidak merubah posisinya tetap seperti itu. Rafa merasa ada yang tidak beres. Rafa bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan kearah meja Salia lalu menggoyangkan bahu Salia.
“Salia...”
“....”tidak ada jawaban.
“Salia?” Rafa mulai khawatir.
“...” masih tidak ada jawaban.
“Hey! Salia bangun!” Rafa berteriak hingga semua murid menujukan perhatiannya pada Rafa.
Rafa mengguncangkan badan Salia sehingga tubuh Salia hampir terjatuh namun Rafa segera menangkapnya.
Salia pingsan,semua murid panik.kini Salia ada di gendongan Rafa.beberapa orang murid ingin membawakan tandu namun Rafa malah bilang..
“Terlalu memakan waktu,Aku akan membopongnya sendiri ke ruang kesehatan.”
Rafa meninggalkan kelas sambil membopong Salia.
Semua murid menganga melihatnya,Alasannya karena Rafa tidak pernah terlihat se-khawatir itu pada siapapun ataupun perduli pada sekitarnya. Rafa benar-benar minim ekspresi.
_000_
Rafa menunggui Salia yang terbaring pingsan di UKS.tangannya menggenggam erat tangan Salia yang dingin seolah tak mau melepaskannya sedetik pun.
“Lebih baik kita bawa Salia kerumah Sakit saja.” Petugas UKS dan 2 orang guru menghampiri Rafa yang duduk di samping Salia.
“Ya,itu lebih baik.” Rafa menganggukkan kepalanya.
Rumah sakit
Rafa,Mr Doni dan Ms.Annie menunggu di depan UGD rumah sakit.Mereka menunggu Dokter keluar.
“Dimana wali dari Salia Ariska?” Dokter tersebut akhirnya keluar juga.
“Ya saya guru dari Salia.” Mr.Doni menghampiri Dokter.
“Dimana orang tua nona Salia?Saya butuh berbicara pada mereka.”
“Orang tua Salia meninggal minggu lalu,Dok.Saya orang tua angkat dari Salia.” Ms.Annie menghampiri dokter itu.
Sedangkan Rafa memilih mengintip jendela di pintu UGD tersebut.
“Begini Bu,dari catatan Rumah Sakit.Nona Salia pernah memeriksakan dirinya ke Rumah sakit ini sekitar 3 bulan yang lalu dan ternyata Nona Salia mengidap penyaki Kanker Darah yang sangat ganas.”
Rafa menoleh ke belakang lalu menghampiri Dokter,
“A-apa kanker darah! Sa-salia ti-tidak mungkin...” Badan Rafa bergetar. Bagaimana caranya gadis itu menyembunyikan penyakin segitu parahnya tanpa ketahuan siapapun?
“Tidak mungkin!” Ms.Annie menangis dan berteriak kencang.
Tiba-tiba Suster keluar dari ruangan Salia menghampiri Dokter.
“Pasien sudah bangun Dok,dan Ia terus memanggil orang yang bernama Rafa.”
Tanpa pikir panjang Rafa masuk ke ruangan Salia.
“Rafa..” Suara terdengar lemah,
“Ya ini Aku.” Rafa memegang tangan Salia yang hampir seperti Es.
“Aku mau bilang kalau Aku men-“
“Aku juga mencintaimu Salia.maafkan Aku yang terlalu Jahat padamu.Aku sangat mencintaimu...Sangat.” Rafa menahan Air matanya.
“Ku kira Kau membenciku.”
“Kau salah besar Salia,maafkan aku karena ke egoisanku tidak mau menyatakan perasaanku padamu pasti membuat mu terluka.”
“....” Salia terdiam mendengar penuturan Rafa.
“Tetaplah di sisiku Salia dan jangan tinggalkan Aku.” Rafa memeluk Salia yang masih terbaring. Salia membalas pelukkan Rafa.
“Ya,Aku akan tetap disisimu selamanya.” Salia membelai rambut Rafa pelan.
Namun perlahan tapi pasti pelukkan Salia mulai mengendur di tubuh Rafa dan menghembuskan nafas terakhirnya di sana.
Rafa menangis sejadi-jadinya,hatinya serasa berdarah-darah.Salia meninggalkannya untuk selamanya.tapi tadi Salia bilang Ia akan disisi Rafa selamanya.
Flashback End
_ooo_
Sepulang sekolah Rafa langsung berjalan kearah pemakaman Salia,ditangannya terdapat sebuket bunga mawar putih kesukaan Salia.jangan tanyakan dari mana Rafa tau bunga kesukaan Salia padahal Ia tidak pernah memberikan Salia bunga. Salia selalu bercerita padanya walau terlihat Rafa tidak memperdulikan Salia berbicara tapi ternyata setelah Salia pergi dari hadapannya.Rafa selalu mencatat di buku khusus tentang Salia.di sana terdapat foto-foto Salia yang Rafa ambil diam-diam dan semua tentang Salia.
Rafa tiba di makam Salia lalu menaruh buket bunga itu di nisan Salia.
“Aku membawakanmu bunga mawar putih kesukaan mu.”
“Dan ini buku semua tentangmu bahkan foto-fotomu yang kuambil diam-diam,Buku ini bukti aku selalu memperhatikanmu.” Rafa menaruh buku bersampul putih di makam Salia.
“Kau berjanji tidak meninggalkanku,tapi nyatanya..” Rafa tersenyum perih.
“Aku merindukanmu,Kau tau Setiap hari Aku hidup dengan Segala sesuatu tentang dirimu begitu menyakitkan.” Rafa meneteskan air matanya.
Rafa bangun lalu meninggalkan makam Salia.
Rafa berjalan dengan fikiran kosong,tangannya Ia masukkan kedalam saku celananya.
“Rafa...” Suara yang terdengar familiar di telinga Rafa.
Rafa mencari sumber suara itu dan menemukan sosok aneh di seberang jalan.
“Salia!” Rafa berlari keseberang jalan
Tiba-tiba....
Tinnn !! Braakkkk !!!
Rafa menutup matanya namun anehnya Ia tidak merasa kesakitan. Rafa segera bangkit dan berlari kearah Salia.
“Salia? Ini Kau?” Rafa memegang pundak Salia.
“Ya.” Salia hanya tersenyum.
“Kau belum meninggal?”
Salia hanya tersenyum lalu menunjukkan sosok tubuh yang ada di pinggir mobil.
Rafa mendekat kearah tubuh itu dan ternyata itu adalah dirinya! Kemeja putihnya sudah bersimbah darah.
Salia menghampiri Rafa yang masih terkaget dan menggenggam tangan Rafa
“A-aku sudah meninggal?“
“Ya.”
“Jadi kita adalah-“
“Ya.” Salia menyela lagi.
“Aku menepati janjiku padamu untuk berada di sisimu bahkan sampai Aku dan Kamu mati.”
Rafa tersenyum lalu menggandeng Salia pergi.Sosok mereka berdua hilang entah kemana.yang pasti mereka bahagia bisa bersama-sama.
"Cinta mereka tidak bisa di pisahkan oleh maut.Inilah pembuktian dari kata-kata Love until Dead."
The End
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
TIHIS WHAT THE HEEEELLLLLL??????????
BalasHapusCeritanya seru, kalimatnya juga ringan dan mudah dimengerti. apalagi pas kalimat, "Rafa benar-benar minim ekspresi." rasanya tuhhh Rafa dingin banget gitu xD
kalau saran saya sihh.... alurnya coba deh lebih dipanjangin, terus kalau flashback usahain jangan pendek-pendek. biar feel-nya lebih ngenak gitu.. #sotoy_bingiddd_dahhh
Over all laik it lahh (y)
keep writing ya chingu, Faighting (o.o)9
ditunggu posting berikutnya :)
makasih ya atas sarannya :)
Hapusmaklum cerpen 1 jam selesai.
oke kita liat cerpen aneh apa yang akan saya posting.hahaha :D